Analis duga ada peran satelit AI China di belakang serangan presisi Iran ke AS
Para analis militer menduga teknologi satelit berbasis kecerdasan buatan (AI) dari China membantu Iran dalam menargetkan pasukan Amerika Serikat dan sekutunya dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi.
Teknologi ini mampu menganalisis citra satelit dan mengidentifikasi objek militer seperti pangkalan, pesawat, kapal perang, hingga sistem pertahanan udara dengan ketelitian hingga sekitar 0,3 meter. Kemampuan ini sebelumnya hanya dimiliki oleh badan intelijen besar milik negara.
Dari laporan ABC yang dikutip Kamis (9/4/2026), perangkat AI tersebut dikembangkan oleh perusahaan teknologi China bernama MizarVision. Badan Intelijen Pertahanan AS (DIA) disebut telah menilai teknologi ini sebagai ancaman serius karena dapat memberikan informasi medan perang hampir secara real time.
Analis militer menyebut, dengan teknologi ini Iran kini memiliki kemampuan baru yang sebelumnya tidak dimiliki, yakni melacak dan menentukan target militer secara cepat dan akurat.
Hal ini dinilai meningkatkan risiko bagi pasukan AS dan sekutunya, termasuk personel Australia yang juga ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Pensiunan perwira militer Australia Gus McLachlan, menyebut perkembangan ini berbahaya karena memungkinkan Iran memilih target secara sangat spesifik. Bahkan objek yang berada di satu lokasi dalam waktu tertentu bisa langsung terdeteksi dan menjadi sasaran.
"Kami melihat target, termasuk pesawat US E-3 Sentry, dihantam dengan presisi luar biasa,” kata McLachlan.
Sementara itu, analis dari American Enterprise Institute Ryan Fedasiuk yang telah menulis makalah tentang penggunaan AI di militer, termasuk di Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok.
MizarVision adalah perusahaan swasta yang berdiri pada 2021 dengan 5,5% kepemilikan pemerintah, bertujuan membuat analisis intelijen geospasial lebih mudah diakses dan tidak lagi terbatas pada organisasi tertentu.
Fedasiuk, menilai penggunaan AI dalam citra satelit ini secara efektif membuat Iran mengalihdayakan kemampuan intelijennya kepada perusahaan teknologi China. Dia menyebut hal ini sebagai bentuk dukungan yang signifikan dalam konflik yang sedang berlangsung.
Namun, pemerintah China membantah tudingan tersebut. Mereka menyatakan citra satelit yang digunakan berasal dari sumber terbuka dan merupakan praktik bisnis yang wajar.
Di sisi lain, kekhawatiran atas penyalahgunaan teknologi ini membuat perusahaan satelit asal AS, Planet Labs membatasi distribusi citra wilayah konflik. Langkah ini diambil untuk mencegah data tersebut dimanfaatkan pihak tertentu dalam melakukan serangan. (Nur Amalina)


0 Response to "Analis duga ada peran satelit AI China di belakang serangan presisi Iran ke AS"
Posting Komentar