Kisah Steven, sakit radang usus akibat pola makan dan hobi begadang
IBD (inflamatory bowel disease) atau bisa disebut sebagai radang usus kronis merupakan penyakit peradangan pada usus halus atau pun usus besar. Pola makan yang buruk terkait erat dengan timbulnya penyakit ini.
Steven Tafianoto Wong (23) pada awalnya tidak pernah mengenal penyakit IBD. Oleh karena itu ia merasa bingung ketika dokter mendiagnosisnya dengan radang usus ini ketika usianya baru menginjak 16 tahun
"Ketika itu saya bolak-balik ke dokter, tidak jelas penyakitnya. Dibilang tifus atau infeksi virus. Akhirnya orangtua membawa saya berobat ke Malaysia dan baru ketahuan kalau saya sakit IBD," tutur dia di acara yang diadakan oleh Yayasan Gastroenterologi Indonesia di Jakarta
Steven mengalami keluhan nyeri dan kram perut, diare, merasa kelelahan, dan berat badan turun drastis sampai 20 kilogram.
Ia mengakui sebelum sakit, pola makannya berantakan dan sering mengonsumsi junkfood. Pola tidurnya juga tak teratur, bahkan sering begadang sampai jam 3 pagi untuk bermain games.
"Saya tidak pernah makan sayur dan buah, makan apa saja yang dimau sehingga berat badan saat itu sampai 75 kilogram," ujarnya.
IBD kerap memunculkan gejala seperti diare, nyeri perut, penurunan berat badan tanpa sebab, demam, mudah lelah, hingga BAB berdarah.
Mengenal penyebab IBD
Dijelaskan oleh Prof.Ari Fahrial Syam Sp.PD-K-GEH, ada dua jenis utama IBD, yaitu ulcerative colitis dan Crohn disease. Di Indonesia, ulcerative colitis lebih banyak ditemukan, sementara Crohn meskipun lebih jarang tetap perlu diwaspadai karena dapat menyerang seluruh saluran cerna.
Ada berbagai penyebab IBD, mulai dari faktor genetik, pola makan, lingkungan, hingga stres.
"Pola makan yang tinggi gula, tinggi kalori, dan kurang serat, serta makanan yang sering diawetkan, ini juga harus dikurangi, karena bisa memicu peradangan pada usus," papar Prof.Ari di acara yang sama.
Selain itu, pola makan yang tidak sehat juga dapat menyebabkan keseimbangan mikrobiota usus terganggu. Gangguan pada keseimbangan ini berdampak pada berbagai penyakit, termasuk IBD.
Peradangan yang terus menerus di usus juga dapat terjadi karena respon imun tubuh yang terlalu aktif.
"IBD ini secara sederhana bisa disebut sebagai autoimun lokal, karena hanya terjadi di usus saja. Jadi tubuh terus menyerang usus sendiri sehingga terjadi peradangan," paparnya.
Faktor lain yang dapat memperburuk kondisi antara lain kebiasaan merokok, konsumsi obat-obatan tertentu, dan juga stres yang tidak dikendalikan.
Pemeriksaan yang diperlukan
Penyakit IBD memang kurang dikenal di masyarakat. Gejala IBD yang menyerupai keluhan pencernaan ringan sering membuat pasien tidak menganggap kondisinya serius.
"Dianggapnya hanya sakit maag biasa, atau kalau terjadi perdarahan saat BAB dianggap ambien. Perlu diingat, kalau gejala ini sudah terjadi berulang kali atau cukup lama, segera periksakan ke dokter," kata Prof.Ari.
Untuk menegakkan diagnosis IBD, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, mulai dari pemeriksaan fisik, laboratorium, hingga kolonoskopi (teropong usus).
Meski demikian, tantangan untuk penanganan IBD di Indonesia memang besar. Mulai dari terbatasnya dokter spesialis gastroenterologi, hingga tidak semua rumah sakit di daerah memiliki alat pemeriksaan kolonoskopi.
Pilihan pengobatan IBD ditentukan berdasarkan berat ringannya penyakit. Untuk IBD yang ringan, pengobatan dapat menggunakan obat oral dan pengaturan pola makan.
Sementara itu, untuk kasus yang berat seperti yang dialami Steven, tersedia pilihan obat biologis.
Steven mengatakan, ia langsung mendapatkan pengobatan setelah dokter mendiagnosisnya dengan IBD.
"Saya sudah mencoba semua obat, mulai dari yang oral, infus, dan sekarang obat biologis yang injeksi. Ini yang paling ampuh buat saya," katanya.
Ia menyebut, menjalani masa pemulihan selama satu tahun dan itu menurutnya yang paling berat karena ia harus mengubah gaya hidupnya.
"Setahun pertama itu prosesnya sulit buat saya karena harus menjaga pola makan, tidak begadang, olahraga walau ringan, dan menjaga pikiran," kata Steven yang saat ini penyakit IBD nya dalam kondisi remisi.
Steven mengaku beruntung karena penyakitnya cepat tertolong dan mendapat pengobatan yang tepat. Sebab, IBD adalah penyakit yang bersifat progresif (makin lama makin berat) bahkan mengancam nyawa.


0 Response to "Kisah Steven, sakit radang usus akibat pola makan dan hobi begadang"
Posting Komentar