Heboh harga minyak dunia merosot tajam usai Donald Trump blak-blakan mau ambil alih Selat Hormuz
Harga minyak dunia tiba-tiba merosot tajam di pasar global, memicu kepanikan di kalangan investor dan pelaku industri energi.
Kejatuhan harga ini terjadi setelah mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pernyataan mengejutkan terkait keamanan Selat Hormuz.
Donald Trump secara blak-blakan menyebut siap mengambil alih jalur strategis tersebut jika dianggap perlu untuk melindungi kepentingan AS.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pengiriman minyak utama dunia, yang dilewati sekitar sepertiga pasokan minyak global setiap hari.
Pernyataan Trump ini langsung menimbulkan ketegangan diplomatik, karena banyak negara bergantung pada stabilitas wilayah tersebut.
Analis menilai bahwa aksi militer atau kontrol langsung atas selat bisa mengganggu pasokan minyak dunia, sehingga harga sempat melonjak sebelum akhirnya jatuh.
Investor internasional kini bersikap hati-hati, sementara negara-negara pengimpor minyak mulai menyiapkan strategi antisipasi.
Situasi ini menegaskan betapa rapuhnya pasar energi global terhadap pernyataan dan tindakan politik dari figur berpengaruh seperti Trump.
Harga minyak mentah dunia turun pada akhir perdagangan Senin (9/3/2026) waktu setempat atau Selasa (10/3/2026) pagi WIB, setelah sebelumnya sempat melonjak mendekati level 120 dollar AS per barrel.
Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan minyak dunia.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah berjangka Brent turun 4,6 persen ke level 88,43 dollar AS per barrel. Sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6,19 persen ke level 85,27 dollar AS per barrel.
Trump mengatakan kepada CBS News melalui percakapan teleponm bahwa kapal-kapal saat ini masih bergerak melintasi Selat Hormuz. Namun, ia menyebut pemerintah AS sedang mempertimbangkan untuk mengambil alih jalur tersebut.
"Saya sedang memikirkan untuk mengambil alihnya," kata Trump.
Ia juga menyatakan bahwa perang yang terjadi saat ini kemungkinan akan segera berakhir.
Selain itu, Trump disebut pula sedang mempertimbangkan untuk mengurangi sanksi minyak terhadap Rusia guna membantu menekan harga minyak dunia, menurut tiga sumber yang mengetahui pembahasan tersebut kepada Reuters.
Pada perdagangan hari sebelumnya, harga minyak mentah Brent sebelumnya sempat naik 6,76 persen dan ditutup di level 98,96 dollar AS per barrel, setelah sempat menyentuh 119,50 dollar AS pada sesi perdagangan yang sama.
Sementara harga minyak mentah WTI sempat ditutup naik 4,26 persen menjadi 94,77 dollar AS per barrel. Harganya bahkan sempat melonjak hingga 119,48 dollar AS pada perdagangan malam karena negara-negara Arab di kawasan Teluk memangkas produksi.
Pemangkasan produksi dilakukan karena kapasitas penyimpanan mereka mulai penuh, imbas kapal-kapal tidak dapat melintasi Selat Hormuz untuk mendistribusikan minyak akibat ancaman dari Iran.
Kenaikan itu sekaligus menjadi pertama kalinya harga minyak menembus 100 dollar AS per barrel sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022
Adapun saat ini para menteri energi negara-negara G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara bersama-sama dari stok strategis mereka. Langkah ini dipertimbangkan untuk menambah pasokan minyak di pasar global.
Anggota G7 terdiri dari Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.
Dalam pernyataan bersama, para menteri keuangan G7 mengatakan siap mengambil langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk untuk mendukung pasokan energi global seperti melalui pelepasan cadangan minyak," demikian pernyataan bersama para menteri.
Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut analisis perusahaan konsultan Rapidan Energy. Sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia diekspor melalui jalur tersebut.
Wakil presiden pasar minyak Rystad Energy, Janiv Shah, mengatakan, harga minyak Brent berpotensi melonjak hingga 135 dollar AS per barrel jika kondisi saat ini berlangsung selama empat bulan.
"Dan harga minyak Brent dapat menembus 110 dollar AS per barrel jika situasi yang terjadi saat ini berlangsung selama dua bulan," tulis Shah dalam catatannya.


0 Response to "Heboh harga minyak dunia merosot tajam usai Donald Trump blak-blakan mau ambil alih Selat Hormuz"
Posting Komentar